Dokumentasi Wooi

Bahasa

Wooi adalah istilah untuk bahasa dan penuturnya yang mendiami desa Wooi, Dumani, dan Woinap di ujung bagian barat pulau Yapen di Teluk Cenderawasih, bagian pantai utara Papua, Indonesia.

Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia dan merupakan bagian dari Eastern Malayo Polynesian. Menurut Ethnoloque, Wooi diklasifikasikan sementara sebagai South Halmahera-West new Guinea, South Halmahera-Geelvink Bay, Geelvink Bay, Yapen, Central Western. Diperkirakan sekitar 1800 penutur masih menggunakan bahasa Wooi dan bahasa ini diidentifikasikan memiliki 77% kemiripan leksikal dengan bahasa-bahasa tentangganya seperti Pom, Marau dan Ansus. Bahasa Pom dan Marau secara linguistis lebih dekat dengan bahasa Wooi daripada bahasa Ansus.

Geografi

Kampung Wooi terletak di ujung bagian barat pulau Yapen yang terpencil dan dengan demikian sulit untuk dijangkau. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan perahu motor dari ibu kota Serui. Perjalanan ditempuh ke arah barat dari kota Serui melalui bakau dan hutan alami di pesisir selatan Pulau Yapen. Kampung Wooi terletak di teluk Wooi yang tertutup dan terlindung dari tsunami. Wooi berada pada posisi 01˚40’ 46.1’’ lintang selatan dan 135˚30’ 27.7’’ bujur timur di Pulau Yapen, Teluk Cenderawasih, bagian utara dari tanah Papua

Wooi berbatasan dengan bahasa Ansus (kampung Aibondeni, Warabori dan Ansus) dan bahasa Marau di sebelah timur, serta bahasa Pom dan Serewen di sebelah utara.

Masyarakat Wooi mendiami dua desa utama yaitu Wooi dan Woinap dan satu tempat para nelayan masyarakat Wooi di pulau Miosnum, sebuah pulau di ujung barat pulau Yapen. Topografi kampung Wooi adalah berbukit-bukit. Pemukiman penduduk berada di pesisir pantai Teluk Wooi yang datarannya tidak rata dan berbukit terjal serta di wilayah ini memiliki pegunungan tinggi yang membelah pulau Yapen dari Timur ke Barat. Wilayah ini ditutupi oleh hutan yang masih alami yang memiliki keragaman biologi yang sangat kaya. Meskipun demikian, dilaporkan bahwa aktifitas penebangan liar pernah dilakukan.

Masyarakat dan Budaya

Wooi dikelompokkan sebagai penganut sistem kekerabatan marga-marga eksogamus patrilineal. Keturunan mereka berasal dari beberapa tempat yaitu Yapen (marga Wihyawari), Wandamen (marga Horota), Kepala Burung Papua (marga Werimon) dan pulau Biak (marga Kendi dan Kirihio). Kebanyakan warga Wooi beragama Kristen Protestan; meskipun demikian kepercayaan-kepercayaan leluhur (magis) masih dipraktekkan. Hubungan antara kelompok-kelompok masyarakat tetangga (Ansus, Pom dan Marau) masih sering terjadi; Wooi adalah desa nelayan yang memperluas kehidupan ekonominya juga dengan bertani dan berdagang sagu melalui jalur perdagangan pantai.

Sistem kepemerintahan Wooi terbagi menjadi dua kepala desa terpilih dari dua marga yang paling dominan, yaitu Werimon dan Wihyawari. Konflik antar etnik sudah menjadi kebiasaan umum pada masa kolonial sampai sekarang dan lagu tradisional Wooi (Koya) masih dinyanyikan sampai hari ini untuk tetap mengingatnya; hal etnologi khusus yang menarik adalah sebuah ritual perdamaian, Hesokuru, yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah antar perorangan.

Program Wooi

Dokumentasi bahasa Wooi didukung oleh Volkswagen Foundation di Jerman dan DoBeS program dari Institut Max Planck. Pada tahun 2007 Dr. Alexander Loch, Prof. Nikolaus Himmelmann dan Yusuf Sawaki telah merencanakan dokumentasi melalui konsultasi langsung dengan masyarakat penutur bahasa Wooi; dan sejak 2009, kegiatan ini secara aktif telah dilaksanakan di Center for Endangered Languages Documentation.

DoBeS Programs