Pesan Direktur

Bahasa dan budaya suatu kelompok masyarakat lahir dan berkembang dari filosofi, cara pandang, cara hidup dan pengetahuan serta pengalaman manusia yang berhubungan erat dengan alam dan dunia di sekitar mereka. Inti dari hubungan antara manusia dan alam yang diwariskan melalui bahasa dan budaya adalah untuk membentuk identitas dan harga diri dari suatu kelompok kebudayaan manusia.

Center for Endangered Languages Documentation (CELD) UNIPA Manokwari lahir sebagai suatu lembaga yang memahami bahwa ketika suatu bahasa atau budaya hilang maka harga dan identitas diri dari suatu kelompok penutur bahasa dan/atau kelompok kebudayaan akan hilang pula. Kami sangat menyadari bahwa keragaman bahasa dan budaya di Papua di suatu waktu akan mengalami menurunan jumlah yang akan mengarah kepada kepunahan, sebagaimana yang telah terjadi di belahan dunia lain. Beberapa bahasa dan budaya di Papua pada saat ini telah mengarah kepada kepunahan karena jumlah penutur bahasa dan pengikut kebudayaan telah mengalami penurunan yang sangat dratis.

Jika kita sampai pada kenyataan bahwa suatu bahasa dan budaya mengalami kepunahan, itu berarti sama dengan kehilangan suatu warisan dunia yang sangat berharga.

Dengan visi, misi dan tujuan CELD, CELD juga turut serta mengemban moto dari UNIPA yaitu “Science for Humanity” (Pro Humanitate Scientia), yaitu membangun kesadaran dan pengetahuan terhadap ilmu kebahasaan dan kebudayaan yang berhubungan erat dengan harga diri dan identitas diri kelompok masyarakat, khususnya di Papua.

Untuk menutup sambutan ini, saya ingin meminjam pemikiran Don Flassy (2010), seorang pemikir Papua, bahwa:

‘Bahasa dan budaya jangan dipandang sebagai alat pariwisata semata, tetapi pandanglah bahasa dan budaya sebagai identitas dan harga diri suatu kelompok masyarakat.’

Demikian.

Direktur Yusuf Sawaki